Kab/Kota yang memiliki kelengkapan laporan yang sangat rendah (Tator dan Bone) harap segera membuat laporan susulan.
Kab/Kota yang timbul peringatan dini, sedapat mungkin melakukan verifikasi terlebih dahulu ke Puskesmas bersangkutan sebelum membuat laporan final.
Apabila peringatan dini benar adanya segera lakukan respon PE dan sedapat mungkin mengambil spesimen untuk diperiksakan di Laboratorium Puskesmas, Rumah Sakit, maupun Laboratorium rujukan.
Sumber : Seksi Pengamatan Penyakit, Imunisasi dan Kesehatan Matra, Bidang PP-PL, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, 2013.
Dalam edisi kali ini, penulis ingin berbagi pengetahuan kepada pembaca mengenai definisi masing-masing penyakit yang wajib dilaporkan dalam sistem EWARS. Sistem EWARS sendiri telah dilengkapi dengan Software yang telah tersedia di Dinkes Kab/Kota, Dinkes Provinsi dan Depkes. Software tersebut dapat menampilkan alert (peringatan dini) dari 22 jenis penyakit, apabila terjadi peningkatan kasus disuatu wilayah.
Adapun 22 jenis penyakit tersebut adalah :
Diare Akut :BAB dengan konsistensi lembek atau cair dengan frekuensi lebih dari 3 kali dalam 24 jam.
Malaria Konfirmasi : Demam > 37,5ºC disertai mengigil, berkeringat, sakit kepala dengan RDT (Rapid Diagnostic Test) positif dan atau pemeriksaan Mikroskopis positif.
Tersangka Demam Dengue : Demam yg berlangsung 2-7 hari ditandai dg nyeri sendi, nyeri retroorbital,sakit kepala, kemerahan pd badan (ruam).
Pneumonia :
pada usia <5 thn ditandai dgn batuk dan tanda kesulitan bernapas (adanya nafas cepat,kadang disertai tarikan dinding dada), frekuensi nafas berdasarkan usia penderita:
• <2 bulan: 60/menit
• 2-12 bulan: 50/menit
• 1-5 tahun: 40/menit
Dan kadang disertai demam.
Pada usia >5thn ditandai dgn demam >38°C, batuk dan kesulitan bernafas, dan nyeri dada saat bernafas.
ILI (Penyakit Serupa Influenza) : kasus dengan demam >38oC disertai batuk dan atau sakit tenggorokan.
Diare Berdarah : Diare akut disertai dengandarah ATAU lendir.
Tersangka Demam Typoid : Penderita dengan demam terus-menerus, bertahap dan memanjang atau menetap yang disertai nyeri kepala berat, mual-mual, hilang nafsu makan, serta dapat diikuti dengan obstipasi atau diare, tanpa penunjang.
Jaundice Akut : Penyakit yg timbul secara mendadak (< 14 hari) ditandai dgn kulit dan sclera berwarna kuning dan urine berwarna gelap.
Tersangka DBD : Demam 2-7 hari ditandai dgn manifestasi perdarahan seperti uji tourniquet positif, ptekie, perdarahan pd gusi, dan epistaksis atau mimisan.
Suspek AI : panas >38°C, dan ada riwayat kontak dengan unggas sakit/mati mendadak.
Suspek Campak : Demam >38°C selama 3 hari atau lebih disertai bercak kemerahan berbentuk makulopapular, batuk, pilek atau mata merah (konjungivitis).
Suspek Difteri : panas >38°C, sakit menelan, sesak napas disertai bunyi (stridor) dan ada tanda selaput putih keabu-abuan (pseudomembran) di tenggorokan dan pembesaran kelenjar leher.
Suspek Pertussis : batuk lebih dari 2 minggu disertai dgn batuk yang khas (terus-menerus/ paroxysmal), napas dgn bunyi “whoop” dan kadang muntah setelah batuk.
AFP : Kasus lumpuh layuh mendadak, bukan disebabkan oleh ruda paksa/ trauma pada anak < 15 tahun.
Kasus gigitan hewan penular rabies :
kasus digitan hewan (Anjing, Kucing, Tupai, Monyet, Kelelawar) yang dapat menularkan rabies pada manusia .
ATAU
Kasus dengan gejala Studium Prodromal (demam, mual, malaise/lemas), atau kasus dengan gejala Studium Sensoris (rasa nyeri, rasa panas disertai kesemutan pada tempat bekas luka, cemas dan reaksi berlebihan terhadap ransangan sensorik).
Suspek Antraks :
(1). Antraks Kulit (Cutaneus Anthrax)
Papel pada inokulasi, rasa gatal tanpa disertai rasa sakit, 2-3 hari vesikel berisi cairan kemerahan, haemoragik menjadi jaringan nekrotik, ulsera ditutupi kerak hitam, kering, Eschar (patognomonik), demam, sakit kepala dan pembengkakan kelenjar limfe regional
(2).Antraks Saluran Pencernaan (Gastrointestinal Anthax)
Rasa sakit perut hebat, mual, muntah, tidak nafsu makan, demam, konstipasi, gastroenteritis akut kadang disertai darah, hematemesis, pembesaran kelenjar limfe daerah inguinal, perut membesar dan keras, asites dan oedem scrotum, melena.
(3). Antraks Paru-paru (Pulmonary Anthrax)
Gejala klinis antraks paru-paru sesuai dengan tanda-tanda bronchitis. Dalam waktu 2-4 hari gejala semakin berkembang dengan gangguan respirasi berat, demam, sianosis, dispnue, stridor, keringat berlebihan, detak jantung meningkat, nadi lemah dan cepat. Kematian biasanya terjadi 2-3 hari setelah gejala klinis timbul.
Demam yang tidak diketahui sebabnya : Demam >38 0C, berlangsung dalam 48 jam terakhir (belum dapat diketahui penyebabnya).
Suspek Kolera : Diare dengan konsistensi seperti air cucian beras dan berbau amis.
Kluster penyakit yang tidak diketahui : Didapatkan tiga atau lebih kasus/kematian dengan gejala sama di dalam satu kelompok masyarakat/ desa dalam satu periode waktu yang sama, yang tidak dapat dimasukan ke dalam definisi kasus penyakit yang lain.
Suspek Meningitis/encephalitis : panas > 38°C mendadak, sakit kepala, kaku kuduk, kadang disertai penurunan kesadaran dan muntah. Pada anak< 1 tahun ubun-ubun besar cembung.
Suspek Tetanus Neonatorum : setiap bayi lahir hidup umur3-28 hari sulit menyusu/ menetek, dan mulut mencucu dan disertai dengan kejang rangsang.
Suspek Tetanus : ditandai dgn kontraksi dan kekejangan otot mendadak, dan sebelumnya ada riwayat luka.
Sumber : Algoritma Diagnosis Penyakit dan Respons Serta Format Penyelidikan Epidemiologi, Ditjen P2PL, Depkes RI, 2008.
Kelengkapan/Ketepatan EWARS berdasarkan unit pelapor Kab/Kota (n=24)
Ketepatan = 87,5 %
Kelengkapan = 87,5 %
Rekomendasi
Setiap kasus susp Campak yang ditemukan, lakukan pengambilan spesimen serum darah sesuai SOP kemudian kirim ke Laboratorium rujukan, pengobatan simptomatik, Pemberian Vit. A dosis tinggi, dan penyelidikan epidemiologi disekitar tempat tinggal kasus.
Setiap kasus GHPR yang ditemukan lakukan respon tata laksana kasus sesuai SOP berupa cuci luka dan pemberian VAR, lakukan upaya preventif berupa sosialisasi kepada masyarakat tetang bahaya rabies utamanya pada daerah yang memiliki kasus GHPR yang tinggi.
Diharapkan kepada Kab/Kota yang belum lapor pada minggu ini, untuk segera mengirim laporan susulan.
Diharapkan kepada Dinas Kesehatan Kab/Kota untuk melakukan umpan balik (feedback) untuk laporan mingguan kepada Puskesmas diwilayahnya masing-masing dalam bentuk bulletin.
SEKSI PENGAMATAN PENYAKIT, IMUNISASI DAN KESEHATAN MATRA, BIDANG PP-PL DINKES PROV. SULSEL